Menambang Harapan, Menenun Budaya: Jejak PTBA dalam Batik Kujur dan Jumputan Palembang

Tanjung Enim, Karsa Sriwijaya – Di tengah hiruk pikuk modernisasi dan geliat industri pertambangan, sebuah kisah inspiratif hadir dari bumi Sumatera Selatan. PT Bukit Asam Tbk (PTBA), raksasa di sektor pertambangan batu bara, tak hanya menambang kekayaan perut bumi, namun juga turut serta menenun harapan dan melestarikan budaya adiluhung bangsa. Melalui program pemberdayaan masyarakat, PTBA berhasil membangkitkan kembali gairah seni batik Kujur dan jumputan Palembang, menjadi simbol sinergi antara kemajuan industri dan kearifan lokal.

Harmoni Tambang dan Kain: Sebuah Narasi Baru Kesejahteraan

Di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, dentuman mesin tambang batu bara telah menjadi melodi keseharian. Namun, di balik suara yang menggelegar itu, tersimpan alunan lembut dari tangan-tangan terampil yang mencelup kain, menyapu kuas, dan menjemur lembaran batik di bawah terik mentari. Dua dunia yang sejatinya berbeda—tambang yang mengandalkan kekayaan alam dan kriya yang bersandar pada keahlian manusia—kini hidup berdampingan, disatukan oleh jembatan bernama PTBA.

PTBA, sebagai bagian dari Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, tak hanya berorientasi pada keuntungan semata. Lebih dari itu, perusahaan ini memilih untuk menambang sesuatu yang lebih abadi: harapan. Harapan akan kesejahteraan yang berkelanjutan, yang tidak hanya bergantung pada sumber daya alam yang terbatas, melainkan juga pada potensi tak terbatas dari sumber daya manusia dan kekayaan budaya.

Melawan Bayang-bayang PETI dengan Ekonomi Kreatif

Isu Pertambangan Tanpa Izin (PETI) selalu menjadi momok di setiap daerah pertambangan. Aktivitas ilegal ini tidak hanya menguras cadangan batu bara secara serampangan, tetapi juga merusak lingkungan dan mengancam keselamatan. Berbeda dengan

“sumur minyak rakyat” yang telah dilegalkan pemerintah, industri batu bara membutuhkan modal besar, teknologi canggih, dan manajemen risiko yang ketat. Oleh karena itu, pengelolaan secara serampangan oleh perorangan tidak mungkin dilakukan.

Menyadari kompleksitas ini, PTBA mengambil langkah strategis dengan menghadirkan alternatif ekonomi yang berkelanjutan. Pemberdayaan masyarakat melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kriya, serta pelestarian budaya menjadi fokus utama. “Kami ingin mengubah persepsi bahwa kesejahteraan tidak hanya bisa dicapai lewat tambang. Ada jalan lain yang lebih ramah, lebih abadi—dengan menghidupkan kembali kriya, UMKM, dan ekonomi kreatif,” ujar Dedy Saptaria Rosa, Division Head of Sustainability PTBA.

Tombak Kujur: Identitas yang Dipatenkan, Kebanggaan yang Ditenun

Di sebuah rumah sederhana di Tanjung Enim, seorang ibu dengan cekatan menorehkan lilin panas ke kain putih. Tangannya terampil, gerakannya pelan namun pasti, membentuk motif tombak Kujur—senjata tradisional khas Muara Enim. Motif ini bukan sekadar gambar; ia adalah simbol keberanian dan identitas masyarakat setempat. Berkat dukungan PTBA, motif Kujur kini telah dipatenkan, menjadikannya kebanggaan daerah yang tak ternilai.

Kelompok pengrajin batik Kujur pun tumbuh subur, menjadi etalase hidup dari kekayaan budaya lokal. Produksi batik ini, meskipun berbasis rumah tangga, telah mengadopsi teknologi ramah lingkungan. Penggunaan kertas bebas limbah, pewarna alami, hingga pengelolaan air yang tidak mencemari lingkungan menjadi bukti komitmen terhadap keberlanjutan. Setiap lembar batik Kujur adalah narasi tentang sejarah, lingkungan, dan masa depan yang ditulis bukan dengan goresan batu bara, melainkan dengan warna-warni indah di atas kain.

Jumputan Palembang: Simpul Harapan dari Benang-benang Tradisi

Selain batik Kujur, PTBA juga turut membangkitkan kembali seni jumputan Palembang. Kain jumputan, dengan motif ikat celupnya yang khas, telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Sumatera Selatan. Melalui program pembinaan, para pengrajin jumputan diberdayakan, diberikan pelatihan, dan difasilitasi dalam pemasaran produk mereka. Ini tidak hanya membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, tetapi juga memastikan bahwa seni jumputan tetap lestari dan dikenal luas.

Sinergi antara PTBA dan masyarakat lokal dalam mengembangkan batik Kujur dan jumputan Palembang adalah contoh nyata bagaimana industri besar dapat berkontribusi pada pelestarian budaya dan peningkatan kesejahteraan. Ini adalah kisah tentang menambang harapan, menenun budaya, dan membangun masa depan yang lebih cerah, di mana kekayaan alam dan kearifan lokal dapat berjalan beriringan demi kemajuan bangsa.

Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp
Exit mobile version