banner 728x250

Gubernur Sumsel Herman Deru memastikan rekonstruksi Jembatan Muara Lawai bukan sekadar proyek fisik, tapi simbol kolaborasi nyata pemerintah dan dunia usaha demi kepentingan masyarakat.”

LAHAT, Karsa Sriwijaya – Di tengah teriknya matahari akhir Agustus, deru mesin dan suara palu terdengar bersahutan di bantaran Sungai Lawai, Kecamatan Merapi Timur. Di sanalah Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, berdiri meninjau langsung rekonstruksi Jembatan Muara Lawai yang roboh beberapa waktu lalu.

“Ini bukan sekadar jembatan, ini urat nadi masyarakat. Karena itu kita pastikan bangunannya kali ini lebih kuat, lebih tahan lama, dan bermanfaat bagi generasi berikutnya,” ujar Deru saat diwawancarai usai penandatanganan kesepakatan proyek, Sabtu (30/8).

Deru menegaskan, pembangunan senilai Rp 20 miliar yang ditargetkan rampung dalam 210 hari ini adalah hasil nyata kolaborasi pemerintah dan dunia usaha. Ia menyebut Asosiasi Pertambangan Batubara Sumsel sebagai mitra yang berkomitmen tinggi.

“Kecepatan respon mereka patut diapresiasi. Saya berharap ini jadi contoh bagaimana dunia usaha tidak hanya mengejar profit, tetapi juga hadir untuk masyarakat,” tambahnya.


Suara dari Lapangan

Tak hanya pejabat, warga sekitar pun merasakan harapan baru. Samsul (47), sopir truk yang kerap melintas, mengaku sempat kesulitan saat jembatan rusak.
“Kalau jembatan ini selesai, jelas lebih aman dan hemat waktu. Selama ini kami harus mutar jauh,” katanya.

Hal senada disampaikan Murni (35), pedagang sayur di Pasar Merapi.
“Dagangan jadi susah masuk. Kadang harus bayar ongkos lebih mahal. Mudah-mudahan cepat jadi, biar lancar lagi,” ujarnya penuh harap.


Komitmen dan Pengawasan

Kepala BPJN Sumsel, Panji Krisna Wardana, menekankan bahwa desain baru jembatan memperhatikan kekuatan struktur dan daya tahan terhadap beban berat.
“Kami ingin memastikan ini bukan hanya proyek cepat selesai, tapi benar-benar kokoh. Jembatan lama bisa bertahan 40 tahun, harapan kami jembatan baru bisa melampaui itu,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Sumsel, Andi Aswara, menyebut keterlibatan mereka bukan sebatas formalitas.
“Ini soal moral. Jembatan adalah milik bersama. Kalau tidak ada akses yang baik, bukan hanya masyarakat yang rugi, tapi juga dunia usaha. Jadi ini kepentingan kita semua,” ungkapnya.


Simbol Sinergi

Rekonstruksi Jembatan Muara Lawai kini dipandang sebagai contoh konkret sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Herman Deru menekankan, proyek ini akan menjadi “warisan infrastruktur” yang bukan hanya menyambungkan dua tepi sungai, tapi juga menyatukan kepentingan banyak pihak.

“Kalau kita bekerja sama, hasilnya akan selalu lebih besar dari sekadar hitung-hitungan anggaran. Inilah kolaborasi yang kita butuhkan,” tutup Gubernur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *