Palembang, Karsa Sriwijaya – Kebutuhan masyarakat akan koneksi internet cepat dan stabil semakin meningkat di era digital. Namun, penyedia layanan seperti MyRepublic kini berada di bawah sorotan publik setelah banyak pelanggan di Palembang dan wilayah Sumatera Selatan mengeluhkan gangguan jaringan yang kerap terjadi.
Berdasarkan pantauan dari berbagai sumber seperti Sumselupdate.com, RRI Palembang, dan forum komunitas pengguna MyRepublic, tercatat sekitar 64% pelanggan di Palembang mengaku mengalami gangguan layanan minimal dua kali dalam sebulan. Sementara itu, hanya 58% pelanggan yang merasa puas terhadap kecepatan dan stabilitas jaringan.
Gangguan yang paling sering dikeluhkan pelanggan meliputi koneksi terputus secara mendadak (LOS merah), penurunan kecepatan di jam sibuk, hingga respon lambat dari layanan pelanggan (customer service).
“Kami sudah bayar penuh tiap bulan, tapi koneksi sering mati. Kadang CS cuma bilang tunggu 24 jam tanpa kepastian,” ujar Rian (32), pelanggan MyRepublic di kawasan Tanjung Barangan, Ilir Barat I Palembang.
Gangguan Berulang dan Respons Lambat, Pelanggan Mulai Kehilangan Kepercayaan
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah pelanggan di Palembang dan Kabupaten Banyuasin melaporkan gangguan hingga 12 jam bahkan 3 hari berturut-turut.
Dari data komunitas MyRepublic Palembang di Facebook, 7 dari 10 pelanggan mengaku kecewa terhadap kecepatan tanggapan teknisi, bahkan sebagian menyebut jadwal perbaikan sering berubah atau tertunda.
Pemantauan di media sosial juga memperlihatkan lonjakan keluhan: lebih dari 1.200 laporan aktif tercatat selama semester pertama 2025, dengan puncak aduan terjadi pada bulan Februari dan Juni — periode di mana banyak masyarakat mengandalkan internet untuk bekerja dan belajar dari rumah.
Layanan Purna Jual: Penentu Kepercayaan Pelanggan
Kualitas jaringan memang bisa naik turun, tetapi layanan purna jual (after sales) adalah kunci utama menjaga loyalitas pelanggan. Sayangnya, survei komunitas digital di Sumatera Selatan menunjukkan hanya 52% pelanggan menilai layanan purna jual MyRepublic memuaskan, jauh tertinggal dibanding Biznet (68%) dan Iconnet (71%).
Pelayanan purna jual yang ideal bagi penyedia internet setidaknya mencakup:
- Respons cepat maksimal dua jam setelah laporan masuk,
- Transparansi penyebab gangguan dan estimasi perbaikan,
- Tim teknis aktif di lapangan, bukan sekadar penyampai laporan,
- Kompensasi wajar bagi pelanggan terdampak, serta
- Pemantauan jaringan secara real-time dengan notifikasi proaktif.
“Kualitas sinyal bisa fluktuatif, tapi kualitas tanggapan tidak boleh ikut turun,” tegas Dr. Rendra Putra, pengamat layanan digital Universitas Sriwijaya.
“After sales adalah wajah sejati dari komitmen perusahaan kepada pelanggan.”
Saatnya MyRepublic Berbenah dan Bangun Kepercayaan Baru
Dari berbagai laporan, gangguan jaringan MyRepublic di Palembang lebih bersifat lokal dan berulang, bukan nasional. Ini menjadi sinyal bahwa perusahaan perlu memperkuat sistem monitoring gangguan berbasis wilayah (area-based management) dan meningkatkan koordinasi tim teknis di lapangan.
Jika tidak segera dibenahi, risiko perpindahan pelanggan ke provider lain akan meningkat tajam. Survei internal komunitas menunjukkan 41% pengguna MyRepublic mempertimbangkan untuk beralih layanan jika gangguan masih sering terjadi hingga akhir tahun.
Di tengah persaingan ketat dengan provider lain, pelayanan purna jual bukan lagi pelengkap, tetapi kewajiban strategis.
MyRepublic memiliki basis pelanggan besar dan loyal di Palembang, namun tanpa peningkatan signifikan di sektor layanan pasca-penjualan, kepercayaan tersebut bisa hilang secara perlahan.
Koneksi cepat saja tidak cukup untuk memenangkan hati pelanggan.
Yang paling dibutuhkan adalah komitmen perusahaan untuk hadir dan tanggap saat pelanggan mengalami masalah.
Pelayanan purna jual yang cepat, transparan, dan proaktif bukan hanya solusi teknis — tetapi cerminan nyata dari tanggung jawab dan profesionalitas MyRepublic sebagai penyedia layanan internet di Palembang dan Sumatera Selatan.