Pertemuan Historis di Palembang: Akademisi Malaysia Terharu Bertemu Sultan, Ungkap Ikatan Kekerabatan dan Pentingnya Monarki untuk Jati Diri Melayu!

PALEMBANG, Karsa Sriwijaya – Sebuah pertemuan hangat dan sarat makna terjadi di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam pada Rabu, 27 Agustus 2025. Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M. Fauwaz Diradja, S.H., M.Kn., menerima kunjungan istimewa dari Dato’ Dr. Kamaruzzaman Sopian FASc PTech (Green Tech), DPMP, PMP, seorang Profesor terkemuka dari Fakultas Teknik Mesin Universiti Teknologi Petronas (UTP) Malaysia.

Pertemuan ini berawal dari kegiatan akademik Dr. Kamaruzzaman di Universitas Sriwijaya (Unsri). Namun, ia merasa “hatinya tergerak” untuk singgah ke Palembang, yang ia sebut sebagai “tanah asal Melayu,” meskipun awalnya dijadwalkan memberikan kuliah di Lampung. “Saya tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan Sultan. Ini akan menjadi salah satu kenangan paling berharga dalam hidup saya,” ungkap Dr. Kamaruzzaman dengan bangga.

Menurut Sultan SMB IV, inti dari kunjungan ini adalah pencarian hubungan kekerabatan Melayu, khususnya dari Perak, dan kaitannya dengan Palembang. Dr. Kamaruzzaman sendiri merasa Palembang adalah bagian dari dirinya karena memiliki garis keturunan dari leluhur Palembang. Ia menyatakan kebanggaannya dapat belajar banyak tentang sejarah dan tradisi Melayu dari Sultan.

Dalam diskusinya, Dato’ Dr. Kamaruzzaman Sopian menekankan pentingnya eksistensi kesultanan di Nusantara sebagai pilar peradaban dan jati diri bangsa. Ia menyebutkan kesultanan seperti Aceh, Pagaruyung, Asahan, hingga Palembang, sebagai bukti bahwa “bangsa Melayu adalah bangsa yang beradab, bersejarah, dan memiliki akar yang kuat di Nusantara”.

Lebih lanjut, ia menyoroti keunggulan sistem monarki konstitusional dibandingkan republik. “Jika kita lihat, negara-negara dengan monarki konstitusional seperti Norwegia, Finlandia, dan Denmark memiliki stabilitas dan transparansi yang tinggi,” jelasnya. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa di negara republik, kepentingan politik terkadang mengorbankan bangsa. “Seorang raja tidak akan menjual negerinya, karena mandatnya datang dari Tuhan,” tegas Dr. Kamaruzzaman.

Di akhir pertemuannya, Dr. Kamaruzzaman mengungkapkan harapannya agar kunjungan ini menjadi pintu awal kerja sama akademik dan budaya yang lebih erat antara Malaysia dan Palembang. Ia berambisi untuk fokus pada pelestarian tradisi Melayu dan penguatan jejaring intelektual di Asia Tenggara.

Hadir mendampingi Dr. Kamaruzzaman adalah sejumlah akademisi Unsri seperti Dr. Hudaidah, M.Pd., Dr. Melinda, M.Pd., dan Prof. Dr. Ida Nursanti, M.Si., serta Assoc. Prof. Ahmad Fudholi, Ph.D dari BRIN, dan tokoh budaya Palembang seperti R.M. Rasyid Tohir, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, dan Dato’ Pangeran Suryo Febri Irwansyah (Vebri Al Lintani).

Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp
Exit mobile version