Pers Indonesia berada di persimpangan jalan. Gelombang digitalisasi yang kian deras memaksa media arus utama untuk berubah, atau perlahan-lahan ditinggalkan pembacanya.
Jakarta, Karsa Sriwijaya – Gelombang digitalisasi tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI), Tundra Meliala, menegaskan bahwa masa depan pers Indonesia hanya bisa bertahan melalui konvergensi media.
“Konvergensi media bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Media yang enggan berubah akan ditinggalkan pembacanya,” ujar Tundra dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Penelitian Litbang AMKI mencatat bahwa berita kini tidak cukup diproduksi untuk satu kanal saja. Jurnalis dituntut menghasilkan karya lintas platform—dari televisi, radio, cetak, hingga media sosial. Namun, perubahan ini juga menambah beban kerja di tengah keterbatasan dukungan kompetensi dan kesejahteraan.
Menurut Tundra, tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan organisasi dan jurnalis untuk bertransformasi. Tanpa pembaruan menyeluruh, media arus utama berisiko tertinggal dari pesaing yang lebih lincah di ranah digital.
Data terbaru juga mempertegas urgensi ini. Belanja iklan digital pada 2024 mencapai 44,1 persen dari total Rp 107,291 triliun, sementara media cetak hanya kebagian 4,3 persen. Tren 2025 bahkan diperkirakan lebih drastis, dengan dominasi digital hingga 75 persen dari belanja iklan nasional.
“Model bisnis lama yang hanya mengandalkan iklan cetak sudah tidak relevan. Media harus mencari sumber pendapatan baru dari langganan digital, retail media, hingga konten sponsor,” tegas Tundra.
Di tengah perubahan ini, AMKI mengingatkan pentingnya peran negara. Regulasi penyiaran dan pers mesti diperbaharui agar kepemilikan media lintas platform tidak jatuh ke satu tangan, dan keragaman suara tetap terjaga.
“Konvergensi bukan sekadar teknologi, melainkan soal visi keberlangsungan pers sebagai pilar demokrasi,” pungkas Tundra.