PALEMBANG, KARSASRIWIJAYA — Sriwijaya FC tengah menghadapi salah satu periode paling kelam sepanjang sejarah keikutsertaannya di kompetisi sepak bola nasional. Hingga pekan ke-16 Pegadaian Championship (Liga 2) musim 2025/2026, klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan ini belum sekalipun meraih kemenangan. Dari 16 pertandingan yang telah dijalani, Laskar Wong Kito menelan 14 kekalahan dan hanya mampu mencatat satu hasil imbang, membuat mereka terpuruk di dasar klasemen Grup 1.
Kondisi tersebut semakin diperparah setelah Sriwijaya FC menelan kekalahan telak 0-7 dari FC Bekasi City di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jumat (16/1/2026). Hasil ini menjadi kekalahan terbesar Sriwijaya FC musim ini sekaligus menegaskan krisis performa yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Sejak awal kompetisi, performa Sriwijaya FC memang belum stabil. Pada laga pembuka, mereka kalah 0-2 dari Garudayaksa FC di kandang sendiri. Tren negatif terus berlanjut di sepanjang putaran pertama dan kedua, termasuk kekalahan 1-0 dari Persekat Tegal serta tumbang 2-5 dari PSPS Pekanbaru. Minimnya produktivitas gol dan rapuhnya lini pertahanan menjadi masalah utama yang berulang.
Situasi ini memberikan tekanan besar bagi manajemen, jajaran pelatih, dan para pemain. Musim 2025/2026 bahkan dinilai sebagai musim tersulit dalam beberapa tahun terakhir bagi Sriwijaya FC. Ancaman degradasi pun kian nyata apabila tren negatif ini tidak segera dihentikan.
Sebagai respons, manajemen klub telah melakukan sejumlah pembenahan internal, termasuk perubahan struktur manajerial dengan harapan mampu membawa energi baru dan memperbaiki performa tim. Namun, suporter masih menantikan langkah konkret yang lebih signifikan, baik dari sisi strategi, mental bertanding, maupun komposisi pemain.
Dengan sisa laga yang semakin terbatas, Sriwijaya FC dituntut bergerak cepat untuk keluar dari krisis demi menjaga asa bertahan di Liga 2.