Tolak Gedung RS 7 Lantai, Zuriat Kesultanan Palembang Gelar Dzikir untuk Selamatkan Benteng Kuto Besak

Massa dari Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam , Aliansi Penyelamat Benteng Kuto Besak (BKB), Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB) , Sejarawan, budayawan kota Palembang dan masyarakat Palembang menggelar Dzikir Ratib Saman Bersama Untuk Cagar Budaya Nasional Benteng Kuto Besak (BKB), di Gedung Kesenian Palembang. Kamis, (1/1/2026).

PALEMBANG, KARSASRIWIJAYA — Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam bersama Aliansi Penyelamat Benteng Kuto Besak (BKB), Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB), sejarawan, budayawan, dan masyarakat Palembang menggelar Dzikir Ratib Saman untuk menyelamatkan Cagar Budaya Nasional Benteng Kuto Besak (BKB), Kamis (1/1/2026), di Gedung Kesenian Palembang.

Kegiatan ini digelar sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pembangunan gedung baru tujuh lantai Rumah Sakit dr. AK Gani di kawasan inti cagar budaya BKB. Massa juga meminta pemerintah pusat agar turun tangan dan menyikapi persoalan tersebut secara serius. Dalam kegiatan itu turut dibacakan syair karya Sultan Mahmud Badaruddin II.

Dzikir Ratib Saman dihadiri Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV RM Fauwaz Diradja, sejumlah zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, sejarawan, budayawan, seniman, tokoh agama, serta masyarakat umum.

Sultan SMB IV menegaskan bahwa dzikir tersebut merupakan ikhtiar spiritual dan budaya untuk menjaga kelestarian Benteng Kuto Besak sebagai warisan sejarah bangsa. Ia berharap kawasan BKB dapat dikembalikan sepenuhnya ke fungsi awal sebagai cagar budaya dan ruang edukasi sejarah.

“Kawasan Benteng Kuto Besak seharusnya diisi aktivitas kebudayaan dan edukasi sejarah, bukan pembangunan gedung bertingkat yang berpotensi merusak nilai dan keaslian cagar budaya,” ujarnya.

Ketua Panitia, Raden Genta Laksana, menjelaskan Ratib Saman merupakan tradisi Kesultanan Palembang Darussalam yang sarat makna perjuangan. Tradisi ini digunakan untuk membangkitkan kesadaran kolektif dalam menjaga warisan budaya.

Sebagai rangkaian kegiatan, panitia juga akan membagikan 289 butir telok abang pada Jumat (2/1/2026), melambangkan usia Benteng Kuto Besak sejak didirikan pada 1780. Telur tersebut dimaknai sebagai simbol harapan agar BKB kembali menjadi milik dan kebanggaan masyarakat.

Sementara itu, budayawan Palembang Vebri Al Lintani menilai pembangunan gedung RS di zona inti BKB bertentangan dengan Undang-Undang Cagar Budaya. Ia menegaskan Benteng Kuto Besak merupakan benteng pribumi satu-satunya di Nusantara yang masih berdiri utuh hingga kini.

Dilansir dari : sumaterapos.id

Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp
Exit mobile version