YOGYAKARTA, KARSASRIWIJAYA – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, mendatangi Mapolda DIY pada Jumat malam (29/8) sekitar pukul 22.30 WIB untuk menemui massa yang masih bertahan melakukan aksi unjuk rasa. Ia hadir bersama GKR Condrokirono, GKR Hayu, dan KPH Yudanegara.
Aksi demonstrasi yang berlangsung sejak siang hari sempat diwarnai kericuhan, termasuk pembakaran serta perusakan aset kepolisian berupa kendaraan dinas dan bagian bangunan kantor. Hingga malam, ribuan massa masih memadati halaman Mapolda DIY.
Dialog Tertutup dengan Perwakilan Massa
Sebelum menyapa massa, Sri Sultan berdialog secara tertutup dengan delapan perwakilan demonstran selama kurang lebih dua jam. Dalam pertemuan itu, ia menegaskan kesiapannya untuk meneruskan aspirasi masyarakat, termasuk komunitas driver ojol, kepada pemerintah pusat.
“Kami siap memfasilitasi dialog dengan pemerintah pusat, baik secara langsung maupun melalui surat. Jika tenaga dan pikiran saya dibutuhkan, silakan. Tapi saya harus menerima surat resmi sebagai dasar menyampaikan aspirasi ke pusat,” tegas Sri Sultan.
Sampaikan Duka atas Korban Jiwa
Di hadapan ribuan massa, Sri Sultan menyampaikan rasa duka cita mendalam atas meninggalnya Affan Kurniawan dalam aksi tersebut.
“Saya sangat prihatin dan berduka atas meninggalnya Affan Kurniawan. Mengapa selalu ada korban dalam upaya membangun demokrasi? Di Yogyakarta, kita seharusnya bisa berdialog, karena kita adalah kota pendidikan. Dengan kesepakatan bersama, kita dapat saling menghargai hak-hak masyarakat,” ujarnya.
Tekankan Demokrasi Tanpa Kekerasan
Sri Sultan menegaskan bahwa demokrasi harus dibangun dengan cara-cara yang mendidik, bukan dengan kekerasan. Menurutnya, DIY sebagai kota pelajar memiliki tradisi dialog yang menjunjung nilai musyawarah dan saling menghargai.
“Saya menghargai apa yang Anda lakukan, karena itu bagian dari tumbuhnya demokrasi di republik ini. Hanya saja, saya berharap proses demokrasi dilakukan dengan baik, mendidik, dan tanpa kekerasan. Di Yogyakarta tidak ada kebiasaan kekerasan dalam membangun demokrasi,” katanya.
Ajak Pulang dan Jaga Kondusivitas
Sri Sultan juga meminta agar massa tetap menjaga situasi kondusif dan menghindari tindakan anarki yang dapat mengaburkan aspirasi. Ia menekankan perlunya dialog berkelanjutan dengan melibatkan perwakilan demonstran serta koordinasi bersama pihak kepolisian.
“Mari kita membangun dialog berkelanjutan. Karena waktunya sudah jam 01.00 malam, mari kita sama-sama pulang dan beristirahat. Kita semua sudah lelah,” tuturnya.
Dengan langkah ini, Sri Sultan berharap aspirasi masyarakat tetap tersalurkan melalui jalur resmi tanpa menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan, serta situasi Yogyakarta dapat kembali aman dan kondusif.